Jumat, 15 Agustus 2008

Konsep Bukan Produk

Tulisan ini muncul terinspirasi dari tulisan Khalid soal metode pengajaran

Setiap kali saya bertemu dengan rekan - rekan pengajar dan berkesempatan membicarakan tentang pengajaran hal ini yang paling saya tekankan, "Konsep" bukan produk, karena kecendrungan orang - orang yang belajar karena metode produk jadi menghafal bukan memahami. Terkadang ini juga menimbulkan fanatisme buta tentang suatu produk, padahal segala sesuatu ada plus minusnya.

Saya sebenarnya sangat miris melihat hasil - hasil keluaran sekolah - sekolah maupun kampus - kampus berbasis IT, terkadang apa yang diharapkan sangat jauh dari kenyataan, yang lebih parah jika memberikan pernyataan yang sepertinya mereka sendiri tidak mengerti apa yang mereka utarakan sebagai contoh saya pernah melakukan perbincangan seperti ini :

saya : Maaf saya biasa pake GUI untuk untuk urusan seperti itu
xxx : waduh pak saya tidak bisa pake GUI.
saya : hah? tidak bisa pake GUI, yang tidak bisa pake GUI kalau tidak bisa klik mouse, pake KDE tidak?
xxx : saya pake KDE.
saya : @#$$*&

Atau seperti ini :
"Kan tinggal compile, kalian pasti biasa compile program", "tidak pak!, kami tidak pernah compile program", "jadi untuk tau programnya bekerja atau tidak gimana?", "kan tinggal run pak!".

Dari sini bisa disimpulkan bahwa masih banyak dari mereka yang memahami segala sesuatunya dengan pendekatan produk, GUI dianggap sebagai sebuah produk padahal GUI kependekan dari Graphical User Interface alias tampilan grafis, sekarang hal ini sudah menjadi wajib bagi pengguna komputer umum.

Dilain sisi juga tidak mengerti "compile" pada setiap saat mereka lakukan walau tanpa sepengetahuan mereka, setiap kali program (compiler) di run pasti dicompile sebelum di run, tapi karena kenalnya produk tekan fungsi ini maka akan muncul hasilnya. Coba dengan pendekatan konsep, tulis programnya dalam format text dengan ekstensi tertentu yang didukung oleh bahasa programnya, selanjutnya kompilasi (dan link) untuk selanjutnya di run.

Untuk kasus dunia pendidikan para pengajar tidak lagi mengajarkan menu tapi konsep, seperti pada word processor, setiap dari word processor punya metode untuk menebalkan huruf (bold), memiringkannya (italic), punya metode untuk paragraf, pengaturan halaman dll. Di spreadsheet pasti punya kolom dan baris serta metode pengolahan angka. Pada presentasi semua punya metode slide dan efek.

Di bagian pemrograman misalnya, setiap bahasa pemrograman punya metode mencetak kelayar, pengecekan kondisi, perulangan, sehingga tidak perlu diajarkan produk yang berbeda tapi diberikan kebebasan pada setiap (maha)siswa untuk memilih sesuai dengan minatnya.

Semoga dengan cara ini kualitas lulusan jadi lebih baik karena mereka tidak tergantung pada satu produk tapi mengerti konsepnya, mau pake apa saja yang penting kerjaan selesai :D

2 komentar:

Razmal Djamal mengatakan...

Betul...
Benar-benar betul..

Cuman mau menambahkan, konsep mengajar sebenarnya diawali dengan mengenali target kita, dalam hal ini mahasiswa atau murid kita.

Menempatkan diri sesekali diposisi mereka adalah hal yang nantinya akan memberi kita keleluasaan untuk menata step-step ide pengajaran yang nantinya bakal dengan mudah dilahap oleh mereka.

Dan yg paling tabu adalah jangan sekali kali berfikir menggunakan ratio kita dan membandingkan dengan mereka, salah besar,..karena konsep pemahaman mereka dan pengajar jelas-jelas jauh berbeda.

Mulailah dengan mengerti mereka sudah tau apa, mereka mau tau apa, dan bagaimana mereka mengembangkan "tau" tersebut.

There is so many smart people, but making a new one is not that simple.

Arman mengatakan...

Betul, mengenali target juga termasuk metode pengajaran yang baik, saya jadi ingat ini di detikinet :

http://www.detikinet.com/read/2008/08/25/120831/994003/398/wahai-dosen-berbicaralah-dengan-bahasa-manusia!